Felix, aku mencurigai kalau ada permen di sakumu, jadi aku ingin bermain denganmu!
Tak berguna! Dalam sakumu tak ada permen, aku tidak ingin bermain denganmu.
Felix, aku mencurigai sakumu ada permen, jadi aku ingin bermain denganmu lagi!
Tak berguna! Dalam sakumu tak ada permen, aku tidak ingin bermain denganmu lagi.
Felix, apakah sakumu ada permen? Bagaimana kalau kita main bersama?
Perasaan Felix terhadap penampilan Sherly seperti ini. Dengan sempurna menunjukkan banyak
perubahan demi mengejar keuntungan. Singkatnya bisa dikatakan dengan matre.
Gadis yang lucu, juga memiliki wajah bulat, kenapa bisa matre? Memang tidak boleh melihat orang
dari wajah!
Awalnya Felix yang menghadap ke kiri pun segera menoleh ke kanan dan hanya memperlihatkan
belakang kepalanya pada Sherly, "Terima kasih, aku gak ada waktu."
Sherly merasa tidak senang karena ditolak.
Menurutnya dia sudah berinisiatif untuk meminta maaf, jadi Felix seharusnya menerimanya dengan
murah hati dan ini baru sikap seorang pria sejati.
“Cuih! Sombong!"
Sherly memonyongkan bibirnya dengan tidak senang.
Tapi, dia masih memikirkan cara untuk menemukan kesempatan bermain dengan Felix, karena dia
merasa saku Felix benar-benar ada permen.
Ketika pulang kerja sore itu, Felix segera mengemas barang dan bersiap pergi.
Hanya saja setelah pergi ke kamar mandi untuk kencing, dia menerima telepon dari Lala dan Lala
menyuruhnya menunggu di depan perusahaan.
Felix tidak menolak, bagaimanapun setelah pulang kerja harus melewati depan pintu dan dia juga
tidak mungkin keluar dengan memanjat dinding.
Setelah datang ke depan pintu perusahaan, Felix sudah melihat Lala menunggu di dalam mobil.
“Naiklah ke dalam mobil, mari kita bicara di dalam mobil."
Felix pun masuk ke dalam mobil setelah mendengar Lala berkata begitu, kemudian Lala
mengemudi.
Dalam perjalanan, Lala berkata pada Felix, “Aku salah paham padamu kemarin pagi. Aku sudah
menanyakan hal itu pada Bob. Dia yang berbohong, sementara kamu tidak melakukan apa pun,
jadi aku yang impulsif dalam hal ini dan aku juga yang harus minta maaf padamu."
Felix tak akan keberatan dengan hal sepele ini, sebenarnya ini karena dia sudah terbiasa difitnah
oleh Keluarga Sutandy. Bahkan sering dibilang tak berguna dan bodoh, jika dibandingkan ini,
difitnah oleh Bob bukanlah hal besar.
Selesai dia meminta maaf, Lala pun menatap Felix, "Sebenarnya... kamu tidak perlu membantuku,
aku sangat berterima kasih atas bantuanmu, tapi aku percaya dengan kemampuanku sendiri dan
aku yakin bisa melakukannya."
Felix tahu jelas Lala sedang mengatakan masalah kontrak kelanjutan kerja sama Stevan.
Oleh karena itu, dia berkata, "Mungkinkah aku tidak membantu? Apakah harus benar-benar seperti
dikatakan Ricardo bahwa kamu mengaturku ke departemen bisnis hanya untuk mengambil gaji
buta?"
Lala hanya diam, tidak mengatakan apa-apa. Dia mengerti maksudnya Felix, jika Felix tidak
melakukan apa-apa, maka orang-orang akan mengira dia makan gaji buta. Pada saat yang sama
dia tahu jelas kalau Felix berniat membantunya, kalau gak Felix tak akan bekerja di perusahaannya.
Mobil melaju pelan di jalanan, akhirnya tiba di satu restoran.
Restoran ini tidak besar, tapi pemandangannya sangat cantik, makanan yang dibuat juga enak jadi
ada banyak orang datang ke sini untuk makan. Setidaknya ada banyak orang yang antre.
Tapi, Lala dengan bos restoran ini adalah teman, jadi dia sudah memesan tempat terlebih dahulu
sehingga bisa masuk ke restoran dengan lancar.
Felix tidak merasa apa-apa terhadap lingkungan yang elegan ini. Bagaimanapun juga
pengalamannya melampaui orang biasa, lalu dia juga pernah pergi ke restoran yang lebih elegan
dari ini, jadi tempat ini biasa saja setelah dibandingkan.
Setelah duduk dan makanan disajikan. Felix dan Lala sambil ngobrol sambil makan, tidak ada topik
khusus sehingga suasana sangat santai.
“Ngapain kamu terus melihatku dan tidak makan? Apakah wajahku ada sesuatu?"
Lala menyadari kalau Felix terus melihatnya, jadi bertanya dengan penasaran.
Felix juga tidak berbohong, “Aku terus memikirkan nenekmu adalah orang seperti apa sehingga
bisa membuat kakekku terpesona padanya dan mengingatnya selamanya. Aku pernah bertanya
pada kakekku, tapi dia selalu mengatakan kalau nenekmu mirip denganmu, jadi sekarang aku
sudah mengerti kenapa kakekku terpesona dengan nenekmu."
Lala bertanya, "Kenapa?"
Felix menjawab, "Karena cantik, juga tidak bosan setelah dilihat lama seperti porselen yang cantik.
Membuat orang suka pada pandangan pertama, lalu akan merasakan rasa lain setelah dicicipi amat
lama. Bagus sekali."
Felix tidak pernah mengatakan kata ini pada Lala setelah menikah tiga tahun dan bercerai tiga
tahun. Tentu saja, alasan utama karena Lala tidak pernah makan berduan dengannya seperti hari
ini. Jadi wajah Lala pun tersipu setelah mendengarnya.
Dia bahkan tidak tahu apa maksud Felix memujinya secara langsung?
Namun, detik berikutnya Felix memberitahunya kalau dia tidak ada maksud lain, “Itu hanya dari
sudut pandang apresiasi."
Awalnya wajah Lala masih memerah, tapi langsung berubah menjadi pucat dalam seketika.
Bukan kecewa atau semacamnya, melainkan merasa marah.
Dia merasa Felix berkata begitu karena buru-buru ingin rujuk dengannya.
Oleh karena itu, dia segera menjawab, “Aku juga tidak ingin kamu salah paham. Makan malam hari
ini hanya untuk mengungkapkan rasa terima kasih dan rasa maafku, hanya itu saja dan tidak ada
maksud lain."
“Benarkah? Bagus sekali"
Felix sengaja berkata berlebihan dan beruntung sehingga membuat Lala semakin marah. Kenapa
orang ini begitu menyebalkan?!
Ketika sedang marah, tiba-tiba ada yang melambaikan tangan pada Lala, "Hai teman lama, lama
tak berjumpa!"
Lala menoleh melihat, lalu terlihat ekspresi tercengangnya, “Charles Pioner? Kok kamu ada di si
Kebetulan sekali!"
Detik berikutnya, Lala pun segera menyambutnya dan menyapa teman lamanya, Charles.
“Ini adalah teman SMA-ku, Charles Pioner. Saat itu aku adalah wakil ketua kelas, sementara dia
adalah ketua kelas."
Setelah menyambut Charles ke dalam ruangan, Lala pun memperkenalkannya pada Felix.
Pengenalannya sangat detail, termasuk nilai dan hal-hal menarik antaranya dengan Charles.
Namun, Lala hanya berkata singkat ketika memperkenalkan Felix, “Ini mantan suamiku."
Kata orang mereka akan memperkenalkan orang penting dengan singkat, kata ini memang benar.
Charles tahu kalau Lala sudah menikah, sedangkan suami yang dicarinya adalah pria tak berguna.
Oleh karena itu, dia merasa sakit hati. Sakit hati kenapa dia lebih memilih menikah dengan pria tak
berguna daripada memberinya kesempatan? Tapi, malam ini dia tahu kalau pria tak berguna ini
sudah menjadi mantan suaminya. Pesan penting ini membuatnya sangat senang.
Oleh karena itu, dia segera duduk di samping Lala dengan akrab, “Senang bertemu denganmu."
Charles dan Lala berbincang dengan senang, sementara Felix yang diperkenalkan oleh Lala. Dia
tidak memberikannya sapaan apa pun, ini terlihat jelas kalau dia sedang menyampaikan satu arti.
Aku tidak menyukaimu, jadi kamu tidak berhak disapa olehku!
0 comments: